Ekspedisi Pecinta Alam Indonesia – Menjemput Harimau Jawa 2018-02-12T21:45:56+00:00

EKSPEDISI PENCINTA ALAM INDONESIA – MENJEMPUT HARIMAU JAWA

KAWASAN TAMAN NASIONAL UJUNGKULON –  PROVINSI BANTEN

Perdebatan masih atau tidaknya Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) terus bergulir sejak IUCN menetapkannya terancam punah dan dinyatakan punah pada tahun 1973. Pernyataan selanjutnya didukung oleh WWF pada tahun 1996 setelah melakukan penelitian di TN Merubetiri dengan menggunakan kamera penjebak system injak. Tidak sedikit praktisi maupun akademisi ikut mengamini pernyataan ini. Apalagi foto sosok harimau Jawa tidak pernah ada setelah foto terakhir takhir tahun 1938.

Kondisi dilapangan, masyarakat pinggiran hutan masih kerap memperbincangkan keberadaan Harimau Jawa. Apakah karena ada warga melihat jejak, kotoran, cakaran, suara auman atau bertemu secara langsung. Tidak hanya masyarakat pinggiran hutan, ada cukup banyak orang di luar komunitas pinggiran hutan yang meyakini keberadaan Harimau Jawa. Diantaranya bahkan menyatakan bertemu langsung. Dan wilayah pertemuan atau bukti-bukti keberadaan Harimau Jawa tersebut tidak hanya di TN Meru Betiri sebagai kawasan konservasi yang ditetapkan sebagai habitat terakhir harimau Jawa. Tapi menyebar, dari ujung barat Pulau Jawa, Provinsi Banten sampai Ujung Timur.

Ekspedisi Harimau Jawa Kelompok Pencinta Alam pada tahun 1997 di TN Meru Betiri telah mengindikasikan Harimau Jawa belum punah. Berbagai temuan terdokumentasikan memperkuat bebagai data dan informasi keberadaan Harimau Jawa. Baik yang bersumber dari masyarakat pinggiran hutan, petugas pemerintah pengawas hutan, TNI, peneliti maupun pemburu binatang liar yang juga menemukan bukti-bukti keberadaan Lodaya atau Gembong.

Tidak sedikit aktifis lingkungan yang lebih memilih setuju pernyataan punah demi untuk melindungi keberadaan Harimau Jawa. Dengan pernyataan punah, Carnivor tersebut dapat bebas menjelajah habitatnya dengan aman dan berkembang biak. Namun argumen ini bertolak belakang dengan harapan. Perburuan Harimau Jawa justru menjadi lebih bebas. Tidak ada hukum berburu hewan yang sudah punah. Jika pun ada informasi perburuan, akan disebut sebagai mitos atau mengada-ada.  Kondisi ini  terbukti dengan terbunuhnya harimau jawa akibat perburuan dan terjebak tahun 2012 – 2014. Bukti fisik berupa kulit dan gigi harimau dapat terdokumentasikan langsung dari sumbernya.

Lebih jauh, anggapan punah selain akan mengabaikan berbagai data dan informasi yang berkembang, dapat berimplikasi pada hutan jawa sebagai habitat Harimau Jawa. Alih fungsi hutan akan mengalami percepatan dengan berbagai alasan. Pembangunan adalah kata sakti yang dapat diterjemahkan dengan berbagai bentuk kegiatan. Rencana pertambangan emas di kawasan Meru Betiri adalah salah satu contoh, bagaimana punahnya harimau Jawa dijadikan alasan tidak ada alasan mempertahankan kawasan konservasi karena yang dilindungi telah punah. Kondisi serupa juga dapat dilihat tumbuhnya pembangunan fisik pada kawasan hutan untuk meningkatkan daya tarik wisata. Tekanan terhadap hutan di Jawa Juga terkait target program penyediaan energi 35.000 MW melalui Panas Bumi dan PLTA, perluasan lahan-lahan pertanian dll.

Ekspedisi Harimau Jawa 1997 telah menorehkan kesan dan kesadaran Pencinta Alam akan peran strategisnya dalam melestarikan spesies dan habitatnya sebagai bagian dari sistem kehidupan yang berkeadilan. Paska Ekspedisi, proses pembuktian  terus dikembangkan di banyak wilayah. Berbagai Informasi dari berbagai sumber menjadi dasar ekspedisi lanjutan, baik skala kecil maupun besar. Dilakukan secara mandiri maupun dengan mendapatkan dukungan dari donatur. Tahun 1999 dilakukan ekspedisi lanjutan di kawasan gunung Slamet dan 2005 di Gunung Ungaran. Ekpedisi mandiri dilakukan di Kawasan Gunung Raung tahun 2012 dan Perbukitan Pembarisan Jawa Barat 2013.

Berbagai temuan perjalan selama lebih dari 20 tahun memperkuat keberadaan Harimau Jawa. Temuan-temuan tersebut terdokumentasikan melalui foto, cetak jejak memalui media gips, data rambut, fases maupun catatan-catatan lapang, buku dll.

Foto dari video petugas TN Ujung Kulon pada 25 Agustus 2017 kembali mengangkat isu keberadaan Harimau Jawa. Sekalipun foto tersebut mengidikikasikan sebagai Macan Tutul dari ciri yang ada, namun menyisakan hipotesis lain tentang keberadaan Harimau Jawa. Selain, berbagai data dan informasi menempatkan TN Ujung Kulon merupakan salah satu habitat Harimau Jawa.  Sebagai habitat, TN Ujung Kulon telah dibuktikan dengan ditemukannya jejak kaki dengan ukuran 14 x 16 cm dan seorang anggota TNI menyatakan telah bertemu dengan harimau Jawa dengan yang dikuatkan dengan sumpah.

Sebagai bagian upaya perlindungan dan penyelamatan Harimau Jawa sebagai spesies dan habitatnya serta perlindungan atas hutan-hutan jawa untuk keberlanjutan kehidupan, menjadi strategis untuk memberikan ruang peran pencinta alam. Sebagai komunitas peduli lingkungan, pencinta alam telah membuktikan dengan berbagai peran, baik sebagai individu maupun kelompok dalam satu ikatan KODE ETIK PENCINTA ALAM.

Ekspedisi Pencinta Alam “menjemput harimau jawa” adalah bentuk kongkrit peran aktif pencinta alam dalam kontek mandiri melakukan upaya perlindungan dan penyelamatan lingkungan. Ekspedisi yang akan dikemas dalam manajemen kolaborasi; pemerintah melalui KLHK – TN Ujung Kulon, Pencinta alam dan masyarakat tempatan. Ekspedisi, selain sebagai cara memperkuat data dan informasi lapang kebaradaan Harimau Jawa, juga menjadi bagian dari proses belajar, membangun kesadaran kritis serta memperkuat komitmen para pihak dalam melindugi berbagai aset penghidupan secara adil dan berkelanjutan.

Tujuan

Keluaran

  • Terbangunnya kesadaran kritis pencinta alam peserta ekspedisi atas peran strategis maupun taktis dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup berbasis masyarakat
  • Teridentifikasinya keragaman hayati Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon pada wilayah ekspedisi
  • Memperkuat keberadaan Harimau Jawa melalui berbagai temuan baru berupa data dan informasi lapang di kawasan Taman Nasional Ujungkulon
  • Terbangunnya sinergitas antar pemangku kepentingan dalam memperkuat kawasan konservasi berbasis masyarakat;
  • Tersampaikannya hasil ekspedisi berupa data primer dan berbagai informasi kepada publik

Bentuk Kegiatan

Untuk mencapai tujuan dan keluaran, kegiatan dikemas dalam bentuk ekspedisi di kawasan konservasi Taman Nasional Ujungkulon. Sebelum seluruh peserta turun ke lapangan di kawasan TN Ujung Kulon, akan diberikan pembekalan berupa pelatihan praktis baik dalam bentuk materi di kelas, diskusi maupun kunjungan lapang.

Deskripsi Kegiatan

Rekrutmen peserta merupakan tahap awal untuk mendapatkan peserta yang memiliki komitmen dan tanggung jawab terlibat dalam pelaksanaan kegiatan.  Calon peserta adalah anggota kelompok pencinta alam dengan dibuktikan dengan kartu tanda anggota atau mandat dari organisasi untuk mengikuti Ekspedisi Ujungkulon; menjemput Harimau Jawa. Calon peserta akan membuat tulisan essay tentang konseravasi sebagai salah satu syarat pendaftaran. Selain mengisi formulir data diri dan komitmen untuk mengikuti seluruh materi. Ekspedisi bersifat swadaya, artinya seluruh peserta akan menanggung biaya untuk dirinya sendiri

Pelatihan merupakan pembekalan bagi seluruh peserta sebelum terjun ke lapangan selama 10 hari pada wilayah yang telah ditentukan di kawasan TN Ujungkulon. Materi pelatihan antara lain:

  • Konsep, landasan dan model pengelolaan kawasan konservasi sebagai wilayah perlindungan satwa dan plasma nutfah penting
  • Pengenalan kawasan TN Ujungkulon
  • Pengamatan kawasan
  • Pengenalan karnivor besar dan satwa terancam punah
  • Teknik pengambilan data dan informasi
  • Analisis sosial
  • Fotografi alam bebas
  • Jurnalistik lingkungan
  • Manajemen ekspedisi

Materi akan diberikan oleh narasumber atau fasilitator yang memiliki keahlian pada bidang masing-masing. Seluruh materi selanjutnya akan menjadi dasar bagi peserta untuk menyusun perencanaan ekspedisi secara mandiri.

Ekspedisi TN Ujungkulon “menjemput harimau jawa”. Seluruh peserta akan dibagi dalam kelompok-kelompok kecil. Masing-masing kelompok akan didampingi oleh fasilitator dan petugas Taman Nasional untuk melakukan indentifikasi dan mengumpulkan berbagai data dan informasi sebagai temuan. Mengelola hasil temuan dalam berbagai bentuk; foto, film, gips, gambar sketsa, maupun catatan-catatan perjalanan serta informasi dari berbagai sumber yang diperoleh. Peserta akan melakukan perjalanan dalam kawasan TN Ujungkulon selama 10 hari. Lokasi akan ditentukan berdasarkan analisis kecenderungan keberadaan atau sebagai habitat harimau jawa.

Ekspose hasil ekspedisi; seluruh temuan sebagai hasil ekspedisi akan disosialisasikan melalui diskusi publik dan pameran temuan yang akan diselenggarakan setelah tim ekspedisi keluar dari lapangan dan menyiapkan laporan awal. Disiminasi temuan juga akan dilakukan melalui media sosial dan press release untuk dimuat di surat kabar cetak maupun elektronik. Ekspose temuan juga akan membuka ruang bagi organisasi pencinta alam di Indonesia untuk menyelenggarakan seminar maupun pameran dari hasil temuan ekspedisi.

Seluruh rangkaian kegiatan diharapkan akan melahirkan rekomendasi dan rencana tindak lanjut dari berbagai temuan dilapangan maupun menindak lanjuti informasi keberadaan harimau jawa di wilayah lain.

Waktu dan Tempat

Pembekalan Peserta

Tanggal Pelaksanaan

24 – 27 Juni 2018

Penelitian Lapangan

Tanggal Pelaksanaan

27 Juni – 8 Juli 2018

Eksebisi hasil ekspedisi

Tanggal Pelaksanaan

18 Juli 2018