Dalam tulisan ini saya tidak berani menyebutnya sebagai sebuah essay, mungkin lebih tepatnya sebuah opini saya tentang konservasi. Konservasi bagi saya adalah segala bentuk tindakan untuk mewujudkan makna lestari. Tapi makna lestari mungkin tidak sama pada setiap orang, jadi perlu kita bermusyawarah. Namun adakalanya musyawarah tidak berakhir ramah. Berujung pada upaya-upaya untuk membuktikan mana yang paling mewakili makna lestari. Upaya-upaya yang tidak sedikit, yang tidak sebentar, bahkan tidak mudah. Upaya-upaya seperti pembuktian melalui riset, menggalang dukungan dengan gerakan kampanye, bahkan secara vertikal dan tegas dengan menggunakan advokasi hukum serta aspek legal lainnya. Terkadang upaya-upaya tersebut tidak ramah, tetapi menyulut “marah”. Alhasil kita perlu mengalami konflik dalam perseturuan tentang siapa yang mewakili makna lestari. Namun perlu digaris bawahi bahwa kita semata-mata hanya manusia. Punya keterbatasan. Pada akhirnya Tuhan telah menitipkan kekuatan kepada “alam” untuk menyampaikan pesan kepada kita tentang “Apa itu lestari menurut alam itu sendiri”.

Bagaimana lestari munurut saya? Jawaban saya adalah tentang saling menghargai, tentang tidak serakah, tentang peduli, dan tentang berlaku adil terhadap apa yang kita ambil dengan apa yang kita berikan. Bagaimana secara teknis untuk melakukannya? Jawaban saya merujuk pada tiga hal, peduli sesama manusia, peduli kepada alam, dan usaha membangun hubungan dengan Tuhan.

Saya berasumsi bahwa kondisi saat ini terdapat kecenderungan untuk berusaha lupa terhadap hubungan peduli kepada alam. Akibatnya “alam” berusaha menyampaikan pesan kepada kita dalam bentuk “bencana”, lebih besar lagi ia mengirim pesan bahwa suhu bumi terus meningkat. Kita terlalu terbius dengan kata “pembangunan”. Kita digoda dengan sistem yang kita buat sendiri, yaitu “uang”. Biusan dan godaan itu yang membuat kita berusaha lupa peduli kepada alam. Sehingga kita lebih ingat untuk mengambil dari alam dibanding memberi kepada alam. Menyedihkan bukan, kita lupa peduli kepada alam karena sistem yang kita buat sendiri.

Bicara tentang Harimau Jawa dan Konservasi tentu ada kaitannya. Kepunahannya bukan karena manusia dari satu generasi, mungkin tiga generasi atau lebih. Jika merujuk pada pembahasan paragraf diatas, secara langsung berani menyatakan bahwa sejarah memperlihatkan kita telah alpa dalam memposisikan harimau jawa sebagai bagian dari kesimbangan dan kelestarian. Beberapa orang mungkin skeptis tentang mengapa perlu menyelamatkan spesies lain, padahal beberapa spesis yang sejenis kita (Homo sapiens) pun sedang diambang kepunahan  melawan kemiskinan. Kemudian beberapa orang lain yang secara langsung maupun tidak langsung mengaku sebagai “ekosentris” mungkin akan berkata bahwa tindakan menyelamatkan harimau jawa adalah bentuk tindakan politik etis manusia terhadap kealpaan-nya memposisikan harimau jawa sebagai bagian dari keseimbangan dan kelestarian alam. Namun ayolah, sepertinya tentang harimau jawa kita sudah bukan difase bermusyawarah dan berdialog. Tapi sudah pada fase untuk berupaya kembali memposisikan harima jawa sebagai bagian dari keseimbangan dan kelestarian alam. Dan sepertinya IUCN terlalu cepat mengambil kesimpulan. Jadi marilah kita lakukan apapun yang bisa kita lakukan. Salam lestari!

Tulisan oleh: Hanif Ibrahim Arkan
Ilustrasi Gambar: https://www.thewalkingclassroom.org/tag/conservation/