Perilaku prososial menjadi isu yang banyak dibicarakan pada saat ini. Namun nyatanya perilaku prososial sekarang ini mulai tergerus oleh zaman yang semakin maju dan manusianya semakin kurang bersimpatik. Perilaku Prososial dapat diartikan sebagai perilaku membantu orang lain dengan cara meringankan beban fisik atau psikologi orang tersebut, memperhatikan kesejahteraan orang lain tanpa memikirkan kepentingan sendiri, dan ikut menyokong dengan tenaga dan pikiran.

Hal itulah yang menjadi ketertarikan alasan sekumpulan orang di desa colo yang masih peduli menjaga hutan muria. Orang-orang tersebut menamakan diri sebagai anggota PMPH yakni Paguyuban Masyarakat Pelindung Hutan Muria. Mereka adalah orang-orang yang masih tersadar akan pentingnya menjaga hutan Muria. Mulai dari keaneragaman hayati ataupun keaneragaman hewani. Mereka konsisten memantau dan melestarikan hutan beserta ekosistem yang ada di dalamnya.  Mereka tetap peduli meskipun hanya beberapa orang demi kepentingan kelestarian hutan muria.

”melestarikan kawasan pegunungan murai merupakan hal yang sangat penting, sebab kawasan muria menjadi tumpuan kehidupan tiga kabupaten. Kawasan muria sangat membutuhkan kesadaran masyarakat yang tinggi. Dengan begitu kawasan muria bisa menumbuhkan budaya rasa memiliki hutan muria dengan budaya tersebut pelestarian di hutan muria berjalan dengan baik dan terhindar dari bencana.” Tambah salah satu anggota PMPH.

Berdasarkan fakta yang ada, pada era roformasi pegunungan muria terdapat pembalakan liar dan buka lahan secara terang-terangan yang mengakibatkan hutan di kawasan Muria menjadi gundul.  Dan Kerusakan Hutan Muria terakhir dikarenakan kebakaran yang diduga adanya pendaki yang membuang puntung rokoknya tanpa mematikan dulu. Lokasi kebakaran di blok 45 Petung lestari pada Puncak Argowiloso. Kebakaran mencapai dua hektare  (Antara 2015). Data kerusakan lingkungan tersebut pastinya menjadi sinyal bahaya akan kelangsungan lingkungan hidup di masa yang akan datang. Sehingga bisa dikatakan perlu adanya perilaku yang secara sadar dan khusus menjaga dan melestarikan lingkungan. Salah satu perilaku yang mendukung ialah sikap atau perilaku prososial.

Dalam hal ini, salah satu faktor perilaku prososial adalah kondisi lingkungan di kawasan Muria.

“kondisi seperti itu jika dibiarkan nanti kan dampaknya buruk bagi kami (masyarakat) untuk itu saya dengan teman lainnya secara cepat dan bergerak melakukan kampanye mengkonservasi di kawasan Muria” imbuh anggota PMPH.

Dan faktor terpenting dalam perilaku prososial yaitu tipe kepribadian, dimana adanya ciri kepribadian tertentu yang mendorong individu untuk memberikan pertolongan dalam beberapa jenis situasi dan tidak dalam situasi yang lain. Misalnya, Individu tersebut dimotivasi oleh keinginan untuk memperoleh pujian dari orang lain sehingga berperilaku lebih prososial hanya bila tindakan itu diperhatikan.

Dengan begitu perilaku prososial dapat terbentuk dengan cara menyadarkan masyarakat betapa pentingnya menjaga kelestarian lingkungan dikawasan Muria dan perilaku tersebut kita kampanyekan pada anak-anak kecil melalui sosialisasi untuk menumbuhkan perilaku prososial diusia dini. Selain itu, masyarakat diajak untuk menjaga lingkungan mereka khususnya di kawasan Muria agar tetap lestari.

Hal yang sudah dilakukan PMPH yaitu menjaga hutan agar tetap lestari sehingga dapat bermanfaat untuk semua masyarakat serta menjaga kelestarian flora dan fauna agar tetap hidup dan ada di kawasan Muria yang akan berdampak pada keselarasan manusia dengan alam. Selain itu, melakukan penanaman pohon dikawasan yang dilihat masih gundul.

Tidak sampai disitu saja, mereka juga membantu menata kawasan Muria dalam berbagai bidang contohnya ojek Colo, para pedagang dikawasan makan Sunan Muria, mengedukasi kelompok tani serta mengembangkan inovasi dibidang kuliner dengan produk khas dari kawasan Muria. Memasang kamera trap pada beberapa titik dikawasan Pegunungan Muria untuk mengidentifikasi harimau yang berada di Gunung Muria sampai sekarang masih dilakukan. Semua yang dilakukan seluruhnya buat kepentingan masyarakat dan kelestarian kawasan Muria.

Sesuai dengan penuturan dari anggota penjaga hutan, mereka memiliki alur pikir dimana mereka menyadari bahwa wilayah kediaman mereka merupakan wilayah yang cukup erat dengan kondisi alam. Otomatis kehidupan mereka banyak yang bergantung dengan alam. Sehingga apapun yang terjadi masyarakat harus menjaga dan merawat alam sekitar.

Hal inilah yang menjadi latar belakang bagaimana mereka memutuskan untuk ikut menjaga alam yang dalam hal ini adalah hutan muria. Mereka tidak ingin kehidupan masyarakat  terganggu karena alam yang rusak. Apalagi sampai terjadi bencana alam yang tentunya berimbas buruk untuk masyarakat. Pada dasarnya mereka ingin ikut menolong dan menyejahterakan masyarakat dengan cara menjaga dan merawat alam sekitar.

Para penjaga hutan tersebut tidak menghiraukan apa lah komentar negatif yang diberikan masyarakat pada mereka. Mereka berpikiran bahwa masyarakat yang beranggapan negatif adalah masyarakat yang belum paham betul menjaga dan merawat lingkungan. Namun mereka tetaplah penjaga hutan yang terus yakin akan perbuatan mereka dalam menjaga hutan Muria tanpa menghiraukan segala kendala yang ada.

Dengan demikian perilaku prososial sebagai suatu tindakan menolong yang menguntungkan orang lain tanpa harus menyediakan suatu keuntungan langsung pada orang yang melakukan tindakan tersebut.

Tulisan: Alfian Yulistianto
Ilustrasi Gambar: http://www.greenberg-art.com/.Toons/environment.html