Dari data yang dirilis oleh Kementerian LHK tahun 2013, kawasan konservasi di Indonesia terdiri dari 50 unit taman nasional, 21 unit taman hutan raya, 124 unit taman wisata alam, 14 unit taman baru, 77 unit suaka margasatwa, dan 249 cagar alam. Dari data tahun 2013 tersebut terdapat pembaharuan untuk taman nasional yang di tahun 2017 sudah mencapai 54 unit (Sadar Kawasan, 2019).

Kementrian LHK kemudian melanjutkan dengan menyatakan; kegiatan pariwisata alam di kawasan konservasi dapat dilakukan di taman nasional, taman wisata alam, taman hutan raya, dan suaka margasatwa. Pada kawasan taman nasional pengunjung dapat melakukan kegiatan wisata alam baik di zona pemanfaatan, zona religi, budaya dan sejarah, dan zona rimba, kecuali zona inti. Pada zona rimba taman nasional dan kawasan suaka margasatwa hanya dapat dilakukan kegiatan wisata terbatas. Pada kawasan taman wisata alam, pengunjung dapat melakukan kegiatan alam di seluruh kawasan taman wisata alam
(Sugiharta, 7:2013).

Pada penyampaian kementerian lingkungan hidup dan kehutanan memiliki  point yang sangat penting bahwa setiap kawasan memiliki status levelling yang berbeda, dimana status kawasan cagar alam adalah sebuah status kawasan yang palig tinggi tingkatannya. Pada kawasan ini tidak semua orang bisa masuk pada kawasan ini, dan yang memiliki batasan kawasan yang sangat terjaga. Kawasan dikhuskan untuk penelitian, observasi, dan sebagainya. Dari semua status yang ada, hanya cagar alam yang tidak memberikan ruang untuk wisata alam, bahkan wisata alam terbatas. Sehingga tidak salah jika dalam levelling, urgensi penyelamatan dan keterjagaan, Cagar Alam adalah status  tertinggi kawasan konservasi.

Sebuah laboratorium alam yang sekarang mulai perlahan hilang karena peralihan fungsi yang disebabkan oleh terbenturnya daya saing peningkatan produktivitas industri, tempat wisata alam, peralihan fungsi lahan, dan terbenturnya dengan eksploitasi sumber daya alam panas bumi. Semua manusia pada saat ini sudah mulai melupakan laboratorium alam, semua dijambah maka keseimbangan alam akan goyah. Laboratorium alam yaitu sebuah status Cagar Alam yang dimana sekarang mulai beralih fungsi atau penurunan status cagar alam yang perlahan hilang, cagar alam sebuah status paling tinggi di kawasan konservasi, dimana semua menyimpan flora dan fauna yang endemik.

Cagar Alam Papandayan dan Kamojang yang menyimpan sejumlah flora dan fauna yang endimik sekarang mulai hilang. Dimana kawasan ini memiliki luas keseluruhan kawasan kehutanan dan kawasan konservasi Papandayan berkisar di 7032 Ha dengan luasan 6807 Ha cagar alam, dan 225 Ha taman wisata alam. Pada saat ini kawasan tersebut sudah terjerambah oleh outdoor activity mulai dari kegiatan trail, berkemah, sampai kegiatan naik gunung.

Ekosistem Cagar Alam Papandayan dan kamojang sudah mulai rusak, dulu banyak sekali flora dan fauna bisa ditemukan sekarang mulai perlahan hilang, dan danau yang sangat  sakralnya yang memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi sekarang mulai surut dan kotor karena terjerambah oleh manusia yang mengunjungi kawasan tersebut yaitu danau ciharus.

Cagar Alam Kamojang dan Papandayan adalah sebuah penyeimbang ekosistem Bandung Selatan dan Garut. Karena perlahan-lahan telah teralih fungsi maka sekarang mulai terlihat dampak yang dirasakan seperti pada kejadian tahun 2016 yang menimpa garut majalaya yaitu banjir bandang cimanuk yang disebabkan oleh kurangnya resapan air di kawasan Gunung Papandayan karena peralihan fungsi lahan yang harusnya sebagai resapan air dan sekarang digunakan sebagai lahan pertanian. Dan sekarang mulai merambah pada pengembangan eksploitasi panas bumi yang dimana dapat merusak ekosistem mulai dari keluarnya gas berbahaya, lingkungan sekitar akan terjadi kekeringan, dan dapat menyebabkan permukaan bumi tidak stabil yang dilansir oleh “www.kompasiana.com” (akta-dampak-negatif-pembangkit-listrik-tenaga-panas-bumi-di-indonesia, 2017).

Pada saat ini kawasan Cagar Alam Kamojang Papandayan mulai keluar SK no.25 tentang penurunan status Cagar Alam Kamojang Papandayan menjadi kawasan taman wisata alam dengan luasan taman wisata alam kurang lebih 4000 Ha, jika dilihat dari hasil yang asalnya 7000 Ha menjadi 4000 Ha, maka Indonesia memiliki tempat wisata terluas sedunia. Jika itu benar-bener terjadi maka akan mengalami dampak sangat hebat dan keseimbangan alam akan rusak. Mungkin akan terjadi banjir bandang yang lebih besar dari cimanuk dan mengalami dampak-dampak lainnya. Jika sekelas Cagar Alam Papandayan dan Kamojang bisa diturunkan statusnya maka akan berdampak kepada cagar alam lainnya.

Maka kita sebagai manusia yang lebih tahu harus bisa memberi edukasi kepada masyarakat lainya yang belum paham terhadapa masalah kawasan dan kita harus bisa menjaga dan memelihara yang sudah tersedia. Alam bisa hidup tanpa manusia, tapi manusia tidak bisa hidup tanpa alam.

Tulisan Oleh: khsan Hambali (Balot)
Ilustrasi Gambar: https://www.cartoonmovement.com/cartoon/42496