Pencinta alam didefinisikan sebagai orang yang mencintai dan menjaga lingkungan. Apabila menambahkan kata mahasiswa, terbentuklah mahasiswa pencinta alam. Kita mengenalnya dengan sebutan mapala, dapat diartikan perseorangan ataupun suatu organisasi kampus. Idealisme mahasiswa ditambah doktrin pencinta alam akan menciptakan suatu gerakan konservasi lingkungan. Sehingga, alam dan konservasi menjadi jati diri Mahasiswa Pencinta Alam.

Timbul sebuah pertanyaan di benak kita. “Apakah kondisi Mapala saat ini bergerak untuk lingkungan ? Atau sekadar Petualangan saja ?” pemikiran di benak teman-teman saya.

Kegiatan ekspedisi penjelajahan hanya untuk membesarkan nama. Persaingan nama organisasi bukan berorientasi kepada kelestarian alam, hanya karena gengsi. Ekspedisi petualangan dan penjelajahan tanpa membawa konservasi tidak memberikan kontribusi untuk kelertarian lingkungan. Penjelajahan tidak berbicara tentang menemukan suatu tempat, memberi tahu khalayak tempat itu, pembuktian bahwa menjadi yang pertama menemukannya. Petualang Pencinta Alam bertujuan untuk melestarikan tempat itu agar tidak dirusak, bukan pamer eksistensi.

Ketika seekor hewan yang diduga ‘harimau Jawa’ tertangkap kamera berkeliaran di Padang Penggembalaan Cidaon, Taman Nasional Ujung Kulon, Banten,apakah para mahasiswa pencinta alam berlomba untuk mencari keberadaannya, melakukan penelitian, atau melakukan kampanye atau aksi ? Beberapa ada yang sadar namun tak ada gerakan, sadar dan bergerak, maupun tak sadar lalu merasa “bodoh amat” menganggap hanya sebuah “hoax”.

Kebohongan publik atau bukan, contoh kasus tersebut menunjukkan bahwa jati diri konservasi lingkungan dan kode etik pencinta alam tidak diamalkan dengan sungguh-sungguh. Peran mahasiswa adalah melakukan edukasi pendidikan, penelitian dan pengembangan, serta pengabdian masyarakat sesuai Tri Dharma Perguruan Tingga. Peran pencinta alam adalah untuk menjaga alam agar tetap lestari. Sehingga, Mapala seharunya memberikan pendidikan kepada masyarakat (mahasiswa, warga, dan orang sekitar) dan melakukan penelitian untuk mengetahui bahwa harimau jawa belum punah.

Mapala tidak bisa disebut mapala apabila tidak melakukan kegiatan lingkungan. Lebih pantas disebut penjelajah daripada pencinta alam. Status mahasiswaalam pencinta  menandakan jika orang itu telah berfikir matang dan bijaksana mengambil tindakan untuk kelestarian alam. Mahasiswa pencinta alam dapat menerapkan ilmu teoritis maupun praktis dari perkuliahan untuk kegiatan konservasi. Seperti ilmu SIG ( Sistem Informasi Geografis) digunakan dalam pemetaan vegetasi dan rekam jejak dari suatu biota, dan banyak hal yang bisa dilakukan untuk lingkungan.

Manusia itu subjektif, karena objektif diciptakan untuk mencari jalan musyawarah. Ego pribadi hanya melahirkan kepentingan sendiri, menyatukannya menjadi ego bersama melahirkan persatuan dan kesatuan. Semoga Mapala dapat menyatukan ego pribadi untuk menjadikan konservasi menjadi jati diri di setiap perjalanan hidup mereka.

Semoga Ekspedisi Pencinta Alam Indonesia “Menjemput Harimau Jawa II” menjadi wadah dan pemersatu seluruh Pencinta Alam di Indonesia dalam kegiatan konservasi lingkungan.

Tulisan Oleh: Muhammad Naufal Nurrahman

Ilustrasi Gambar: https://www.cartoonstock.com/directory/d/destruction.asp