Dalam beberapa hari kemarin, beredar poster di lini masa media sosial foto Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Indonesia, dengan latar belakang hutan serta pada wajah di sebelah kirinya, ditempelkan gambar orangutan. Pada poster tersebut ada kutipannya, “Kalian hanya memikirkan orangutan. Rakyat kami juga membutuhkan kehidupan yang layak.” Pernyataan itu terlontar, atas sikap Uni Eropa yang hendak berhenti menggunakan minyak kelapa sawit.

Seperti diketahui bahwa Indonesia merupakan negara penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Maka tak heran Luhut mencak-mencak atas reaksi Uni Eropa. Ditambah Luhut yang mewakili pemerintah Indonesia tersebut, juga memiliki usaha kelapa sawit secara pribadi dengan salah satu perusahannya bernama PT Tritunggal Sentra Buana menguasai lahan seluas 12.000 ha. Maka tak heran jika dia mewakili pemerintah sekaligus dirinya sebagai pengusaha kelapa sawit akan berusaha melobi atau melawan orang, negara atau lembaga manapun yang berusaha menghentikan kelapa sawit. Padahal di sisi lain, tidak jauh beda harinya, ditemukan orangutan di Aceh dengan 74 peluru bersarang dalam tubuhnya yang habitatnya kini banyak berganti lahan kelapa sawit.

Usaha Menjaga Lingkungan Hidup

Luhut merupakan representasi dari pemimpin negeri ini yang dengan mudahnya meminggirkan kepentingan lingkungan hidup, yang merupakan unsur terpenting yang akan diwariskan pada generasi mendatang. Narasi kebanyakan yang diagungkan adalah memajukan perekonomian dan kesejahteraan rakyat. Atas dalih tersebut biasanya lingkungan hidup yang didalamnya ada hewan asli yang sudah langka tidak dihiraukan lagi.

Perkembangan beberapa tahun terakhir, perlindungan terhadap hewan asli Indonesia masih lemah, bisa dilihat dari data wwf yang menggambarkan jumlah populasi orangutan selama 20 tahun menurun 50%, apalagi saat hutan diahlifungsikan untuk kepentingan industri perkebunan dan pertambangan. Ambil saja dalam kelapa sawit, ketika hutan yang dulunya diisi oleh tumbuhan beragam jenis dan kini berubah menjadi satu jenis saja, otomatis akan mengganggu mata rantai di dalamnya. Tak terkecuali orangutan, keberadaannya kini hanya berada di tempat yang memang dilindungi, di luar itu, orangutan harus hidup tidak tenang karena ekspansi perkebunan maupun pertambangan.

Oleh sebab itu, melindungi hewan asli yang sudah langka ataupun mencari keberadaan hewan yang sudah dinyatakan punah menemui jalan terjal. Tetapi jika kita terjebak rasa pesimis, tidak akan membuat keadaan kedepannya lebih baik. Maka saya menyambut baik kegiatan ini, selain sebagai salah satu usaha menjaga lingkungan hidup, usaha ini juga bisa jadi menjadi gerbang utama, bahwasannya menjaga lingkungan hidup harus diprioritaskan.

Sebagai seseorang yang dididik 4 tahun belakang ini sebagai pencinta alam, mencari harimau jawa dan menemukannya sebagai langkah yang progresif untuk melindungi hutan, terutama di Pulau Jawa. Karena hutan di Pulau Jawa sudah semakin menyempit karena pertambangan, mulai dari semen hingga emas. Bisa kita lihat, dengan mudahnya pemerintah merubah status lindung di tumpang pitu, banyuwangi menjadi wilayah HGU, yang pada akhirnya menjadi wilayah pertambangan emas. Padahal dalam kawasan tersebut dihimpit oleh dua taman nasional yakni Alas Purwo dan Meru Betiri. Kondisinya sekarang, dalam pengamatan lapangan, biota laut di kawasan tumpang pitu menjadi tercemar, sebelumnya nelayan hanya perlu menghabiskan satu batang rokok untuk mendapatkan kelimpahan hasil laut, kini harus lebih jauh sekitar berjam-jam baru mendapatkan hasil laut.

Maka dari itu, usaha-usaha mandiri dan kolektif harus terus dilakukan, agar perlindungan hutan yang merupakan habitat bukan hanya harimau jawa saja, tetapi semua hewan dan tumbuhan menjadi agenda utama dalam hidup bermasyarakat kita. Memang mencari harimau jawa sangat sulit dibuktikan secara ilmiah, namun keadaan ini bukan berarti kita menyerah, karena Harimau Jawa sangat berpengaruh dan punya sejarah panjang di pulau jawa.

Tulisan Oleh: Meryta Syane
Ilustrasi Gambar: http://ecosocialistsvancouver.org/article/book-review-capitalism-climate-change-science-and-politics-global-warming