Harimau Jawa menjadi harta P. Jawa yang sangat beharga, mengapa begitu?! Panthera tigris telah dinaikkan statusnya dari tahun 1986 menjadi Endangered. Harimau termasuk dalam kingdom animalia, ordo karnivora dan famili felidae. Felidae merupakan julukan dari kucing, terdapat kucing kecil dan kucing besar, keduanya liar namun ada beberapa yang sudah terdomestikasi secara genetik menjadi kucing ras. Mari kita bahas mengenai kucing besar, yaitu harimau. Mamalia ini memiliki tiga genus, sebut saja Leopardus, Neofelis dan Panthera.

Harimau Jawa memiliki nama latin Panthera tigris sondaica dan memiliki subspesies atau sebut saja beberapa kerabat di Indonesia yaitu Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), Harimau Benggala (Panthera tigris tigris), dan Harimau Bali (Panthera tigris balica).

Karnivora satu ini merupakan predator paling atas, memiliki karakter genetik yang unik. Menurut sumber Harimau Jawa memiliki loreng yang berbeda dengan subspesies yang lain. Hewan langka ini memiliki lambung monogasrik.

Sobat! Peneliti telah melakukan banyak riset mengenai harimau, harimau merupakan mamalia yang mudah berkembangbiak, namun kenyataannya manusia jail lainnya tetap mengambil dan memanfaatkannya hingga akhirnya kehabisan stok. Bahkan pihak – pihak tertentu sampai sampai membuat semacam mitos untuk melindungi si Harimau Jawa ini. Harimau merupakan regulator dan indikator di ekosistem, oleh sebab itu populasi sangatlah berpengaruh pada penyeimbangan populasi yang lain. Perburuan yang lama dilakukan, kerusakan hutan, perdagangan ilegal, penangkapan paksa untuk display sangatlah tidak pantas untuk diungkit lagi. Ditingkat nasional dan internasional harimau telah dilindungi dalam UU.

Harimau memiliki karakter yang unique, memiliki penyamaran yang cukup berbahaya bagi mangsanya, dia mampu berkamuflase dengan loreng emas dan garis hitamnya. Harimau Jawa dulunya memiliki jelajah luas di pulau Jawa, karena kepadatan penduduk dan sebagian besar daerah jelajahnya digunakan untuk kebutuhan manusia sehingga daerah jelajahnya semakin berkurang. Satu lagi yang sangat berpengaruh, yaitu kelimpahan mangsa utamanya, akibat manusianya sering berburu babi, rusa, atau beberapa jenis ungulata di P. Jawa membuat sekumpulan Harimau Jawa kehilangan mangsanya. Harimau adalah mamalia berteritorial, sifat kepemimpinanya sangatlah tinggi.

Harimau Jawa menjadi pusat perhatian beberapa tahun terakhir, banyak sekali keindahan yang dimilikinya pada seluruh bagian tubuh. Salah satunya taring yang ‘sangar’ dan orang – orang gengsi untuk memilikinya, kulit, tulang belulangnya untuk kenikmatan semata. Dahulu kala, memang masyarakat suka berburu hewan buas ini terlihat dari foto Harimau Bali diatas. Bagaikan sapi, seluruh bagian dari Harimau oleh masyarakat digunakan dengan baik. Mulai kulit, daging, giginya, kuku dan beberapa bagian lain. Diburu, diambil, dipotong hari, esok? Lusa? Beberapa tahun kemudian? Ia punah. Perkembangbiakkan sangat mudah namun sekalinya berkembangbiak, diambil, dijual anakannya, teruslah seperti itu wahai manusia. Tidak ada sisa untuk cucu – cucu kita nanti.

Beberapa pegiat satwa liar memang telah berusaha melindungi seperti memasang camera trap di sudut – sudut yang telah dihitung untuk mendeteksi keberadaannya. Beberapakali melihat berita bahwa masyarakat memasang jerat di daerah jelajah harimau,

apakah dari pihak pemerintah sudah memberikan peraturan yang jelas tentang penggunaan jerat?! Dan masyarakat yang belum mengerti pentingnya melindungi mamalia besar ini perlu diedukasi lagi. Apapun upayanya, tolong semua pihak dukung aksi teman – teman dalam menyelamatkan mamalia besar ini, Harimau Jawa!

Tulisan Oleh : Tetri Regilya

DAFTAR PUSTAKA

Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati, DITJEN KSDAE – KLHK. 2017. Panduan Pemantauan Populasi Harimau Sumatera. Jakarta : DITJEN KSDAE – KLHK.

J.H. Maza´k and C.P. Groves. 2006. Original investigation A taxonomic revision of the tigers (Panthera tigris) of Southeast Asia. Shanghai Science and Technology Museum (formerly Shanghai Natural History Museum), Shanghai, PR China; and School of Archaeology and Anthropology, Australian National University, Canberra, ACT, Australia.

Ji H. Maza´k, Per Christiansen, Andrew C. Kitchener. 2011. Oldest Known Pantherine Skull and Evolution of the Tiger. PLoS ONE 6(10): e25483. doi:10.1371/journal.pone.0025483. akses pada 01 April 2019: PLoS ONE.

https://www.mongabay.co.id/2017/05/07/duh-harimau-ini-luka-luka-kena-jerat-begini- rekaman-video-dan-foto-evakuasi/. Akses pada Selasa, 02 April 2019.