Hilang Jejak Sesak Tapak

/Hilang Jejak Sesak Tapak

Hilang Jejak Sesak Tapak

Kutidhieng laha dhieng bet
Kutidhieng laha dhieng bet lah hem bet
bet la tidhieng la hem bet bet la tidhieng

lam puteh kahyangan lam puteh kahyangan Aulia
Rimueng Aulia, Aulia, Rimueng Aulia

Dalam pandangan masyarakat Aceh, kita mengenal rimeung sebagai hewan suci. Seperti sepenggal lagu di atas, Kutidhieng adalah lagu yang sangat familiar dalam pagelaran tari Saman. Harimau, menjadi bagian dari kosmologi masyarakat Aceh. Apakah itu hanya akan menjadi sepenggal bait saja? Atau anak cucu kita hanya mengejanya dalam ingatan?

Negara  Indonesia sangat kaya dengan keragaman fauna. Keanekaragaman hayati Indonesia bahkan termasuk  tiga  besar dunia setelah Brazil dan Zaire. Jumlah spesies hewan mencapai 2.215 spesies pada tahun 1999  (Data dari Departemen Kehutanan dan Perkebunan). Spesies hewan di Indonesia terdiri atas 1.519 burung, 515 mamalia, 60 reptil, dan 121 kupu-kupu. Letak Indonesia yang strategis, yakni berada di antara benua Asia dan Australia, menyebabkan Indonesia memiliki beraneka ragam  fauna yang begitu kaya dengan karakteristik masing-masing. Keunikan dari fauna masing-masing daerah menyimpan misteri tersendiri layaknya harta yang harus digali lebih dalam.

Namun ada  faktor yang menyebabkan jumlah hewan tertentu dari tahun ke tahun semakin berkurang jumlahnya bahkan sampai punah, salah satunya disebabkan oleh manusia. Kurangnya kesadaran manusia yang mengekploitasi alam secara berlebihan menyebabkan hilangnya habitat asli hewan. Padahal 45% daerah Indonesia masih belum berpenghuni dan ditutupi hutan tropis. Pada tahun 2003, World Conservation Union mencatat 147 spesies mamalia, 114 burung, 91 ikan dan 2 invertebrata termasuk dalam hewan-hewan yang terancam punah. Berdasarkan data di atas menjadi timbul pertanyaan, apa penyebab kepunahan hewan-hewan tersebut? Bagaimana bisa hewan kehilangan habitatnya ketika 45% daerah Indonesia adalah hutan tropis yang belum berpenghuni? Pertanyaan tersebut menimbulkan munculnya dua pertanyaan lain yaiu dimana peran pemerintah Indonesia dalam melindungi habitat hewan? Dan sebagai mahasiswa terutama mahasiswa pencinta alam, tindakan apa yang bisa dilakukan untuk ikut serta melestarikan hewan yang terancam punah?

Penulis berharap mahasiswa mampu bersikap kritis terhadap kebijakan pemerintah dan tidak lupa pada autokritik untuk bertanya pada diri sendiri tentang peran langsung mahasiswa. Dengan dua kritik yang berimbang tersebut diharapkan mahasiswa lebih mengerti mengenai permasalahan hewan yang terancam punah. Mahasiswa sebagai mitra kritis pemerintah harus mampu berperan langsung dengan turun ke lapangan, di samping juga melakukan kritik langsung kepada kebijakan pemerintah.

  1. Kondisi Harimau di Indonesia

Salah satu hewan yang terancam punah adalah harimau. Harimau adalah hewan yang berasal dari keluarga felidae (kucing) dan termasuk dalam genus panthera (kucing besar). Ada 9 subspesies harimau di dunia, namun 3 diantaranya dinyatakan punah oleh The International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN), yaitu harimau Jawa, harimau Bali dan harimau Kaspia atau Persia. Enam diantaranya masih hidup pada masa sekarang, yaitu harimau Bengal, harimau Indocina, harimau Malaya, harimau Sumatera, harimau Siberia dan harimau Cina Selatan.

Indonesia  memiliki tiga jenis harimau yaitu harimau Sumatera, harimau Jawa, dan harimau Bali. Dua diantaranya  ditetapkan punah oleh IUCN, yaitu harimau Jawa dan harimau Bali. Sedangkan harimau Sumatera saat ini masuk dalam The IUCN Red list of Threatened Spesies dengan status critically endangered, yaitu status konservasi yang diberikan kepada spesies yang menghadapi risiko kepunahan di waktu dekat.  Punahnya harimau-harimau tersebut disebabkan oleh faktor alam maupun faktor manusia. Walaupun 45% daerah Indonesia masih belum berpenghuni dan ditutupi hutan tropis pertumbuhan populasi Indonesia yang tinggi dengan industrialisasinya, secara perlahan memengaruhi keberadaan fauna di Indonesia. Seiring hutan yang menyusut mempengaruhi keseimbangan ekologi. Harimau yang susah mencari mangsa, keluar dari hutan dan memakan hewan ternak. Manusia mulai menganggap harimau sebagai hama, dan memburu harimau. Selain itu, perdagangan hewan ilegal semakin menambah parah kondisi harimau di Indonesia. Harimau Bali yang berhabitat di Pulai Bali adalah harimau Indonesia yang lebih dulu punah dibandingkan dua lainnya. Harimau ini adalah harimau terkecil dari ketiga subspesies, harimau Bali terakhir ditembak pada tahun 1925, dan subspesies ini dinyatakan punah pada tanggal 27 September 1937. Subspesies ini punah karena kehilangan habitat dan perburuan. Harimau Sumatera hanya dapat ditemukan di pulau Sumatera. Berdasarkan data tahun 2004, jumlah populasi harimau Sumatera di alam bebas hanya sekitar 400 ekor saja. Harimau Sumatera berada di ujung kepunahan karena hilangnya habitat secara tak terkendali, berkurangnya jumlah mangsa dan perburuan ilegal.

Pada awal abad ke-19, harimau Jawa masih banyak berkeliaran di Pulau Jawa. Pada tahun 1950-an, populasi harimau Jawa hanya tinggal 25 ekor, kira-kira 13 ekor berada di Taman Nasional Ujung Kulon. Saat itu ada usaha-usaha untuk menyelamatkan harimau ini dengan membuka beberapa taman nasional. Namun, ukuran taman ini terlalu kecil dan mangsa harimau terlalu sedikit. Semakin minimnya hutan tempat tinggal harimau jawa, maraknya perburuan intensif pada awal abad 20-an,  budaya rampogan Jawa, dan lemahnya penegakan hukum perburuan pada zaman dahulu merupakan faktor utama punahnya harimau Jawa. Pada pertengahan tahun 1970, IUCN menaikkan status Harimau Jawa dari level Sangat Rentan (Critically Endangered) ke Punah (Extinct). Namun, tahun 1990 Pusat Informasi Pecinta Alam (PIPA) Besuki menyatakan menemukan jejak kaki harimau jawa. Tahun 1997 tim ekspedisi PL-Kapai ’97 mengklaim menemukan bekas aktivitas harimau jawa meliputi feses, cakaran di pohon, jejak tapak kaki dan rambut. Walaupun sampel temuan rambut baru teridentifikasi sebagai milik harimau jawa setelah dianalisis pada tahun 2001 (Kompas, 29/09/2003). Jadi, masih ada kemungkinan bahwa harimau Jawa belum punah.

  1. Peran Pemerintah

Salah satu penyebab kepunahan harimau adalah lemahnya penegakan hukum perburuan pada zaman dahulu. Pada saat ini, dengan melihat fakta-fakta bahwa habitat hewan mulai terancam, pemerintah telah mengambil langkah-langkah untuk menjaga kelestarian hewan tersebut. Salah satu contohnya adalah Indonesia telah menetapkan kebijakan perlindungan hewan dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Selain itu, dibentuk pula Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P/42/Menhut-II/2007 tanggal 24 Oktober 2007 tentang Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Harimau Sumatera (STRAKOHAS) tahun 2018-2028, hal tersebut sebagai bentuk kepedulian pemerintah terhadap harimau Sumatera yang terancam punah. Hal lain yang dapat dilakukan oleh pemerintah adalah pendataan. Pendataaan  hewan, terutama yang terancam punah, harus dilakukan di kawasan konservasi dan non konservasi, lalu melakukan pembinaan habitat dengan melakukan kajian daya dukung habitat; serta patroli rutin untuk mencegah adanya perburuan jenis prey carnivor dan perburuan liar. Baru setelah itu dilakukan pola pengelolaan spesies secara menyeluruh dengan melakukan koneksitas informasi dan data dalam pengelolaan yang lebih menyeluruh. Selain itu, pemerintah membangun  program konservasi ex-situ, seperti Taman Nasional dan Suaka Margasatwa,  yang bermanfaat dan selaras dengan upaya kelestarian harimau sumatera di alam.

  1. Peran Masyarakat

Harimau sebagai pemangsa puncak dalam rantai makanan memiliki peranan penting menjaga keseimbangan ekosistem. Satwa ini membutuhkan habitat yang khas sebagai tempat hidupnya. Oleh karena itu, upaya konservasi harimau dapat dilakukan dengan cara memulihkan habitatnya. Hal tersebut dapat dilakukan dengan menciptakan kelompok masyarakat yang peduli dan bertanggung jawab terhadap kelestarian harimau, terutama masyarakat di sekitar habitat harimau tersebut. Peran masyarakat dalam menjaga kelestarian harimau juga dapat dilakukan dengan mengurangi permintaan akan produk-produk olahan harimau. Selain itu, masyarakat juga berperan untuk melaporkan kepada pihak berwenang ketika mengetahui adanya perdagangan ilegal satwa liar, serta mencintai satwa liar di habitatnya.

  1. Peran Mahasiswa

Mahasiswa juga harus mengambil peran untuk lebih peduli pada satwa yang terancam punah. Salah satu peran mahasiswa untuk menjaga kelestarian habitat hewan adalah dengan melakukan fungsi edukasi. Mahasiswa sebagai akademisi berperan untuk mengedukasi masyarakat untuk melindungi dan melestarikan satwa, terutama yang terancam punah. Hal tersebut dapat dilakukan melalui karya ilmiah, media sosial ataupun dengan sosialisasi secara langsung. Di era modern, media sosial dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa untuk sosialisasi yang  masif. Media sosial telah memainkan peran penting dalam persebaran wacana di setiap kelas atau golongan masyarakat. Dengan kata lain, media sosial adalah jalan pintas edukasi ketika masyarakat tidak lagi begitu peduli terhadap data-data dan karya ilmiah. Masyarakat telah masuk kedalam satu kesatuan budaya cyber, sehingga ketika mahasiswa masuk ke ranah tersebut dampaknya bisa cukup kuat. Selain itu, eksistensi mahasiswa pencinta alam juga dapat memainkan peran penting dalam pelestarian hewan. Mapala yang memiliki kemampuan berkegiatan di alam bebas memiliki akses yang mudah untuk turun langsung ke lapangan untuk keperluan konservasi. Sebagai pemuda Indonesia, yang juga memiliki peran agent of change, sudah sepatutnya menyadari kondisi lingkungan sekitar dan turut serta melaksanakan pelestarian alam

  1. Penutup

Indonesia kaya akan keanekaragaman fauna. Namun banyak faktor yang menyebabkan berkurang bahkan punahnya suatu spesies fauna yang ada, salah satunya adalah harimau. Dimana dahulu Indonesia memiliki tiga jenis harimau dan dua diantaranya dinyatakan punah oleh IUCN. Kritik atas permasalahan tersebut harus dilakukan dari dua sisi: kritik pada pemerintah dan kritik atas tindakan nyata mahasiswa. Mahasiswa harus mampu berperan langsung dan membantu pemerintah untuk menjaga kelestarian hewan khususnya harimau. Mahasiswa harus mampu turun langsung ke lapangan, bukan hanya duduk dibalik meja dan menulis kritik tanpa tindakan nyata.

“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat ….” 

-Soe Hok Gie-

Tulisan oleh: Theodora Elfriani

By | 2018-03-31T22:28:53+00:00 March 29th, 2018|Categories: esai, harimau jawa|Tags: , , , , , , , , , , |Comments Off on Hilang Jejak Sesak Tapak
%d bloggers like this: