Bumi yang kita tempati ini selalu berevolusi, berubah sesuai perkembangan peradaban manusia di dalamnya. Semakin tua bumi ini, semakin beragam perubahannya karena manusia selalu melakukan inovasi untuk mempermudah hidupnya. Jika kita lihat dari sejarahnya, bumi ini beserta isinya terbentuk melalui proses pemanasan dan pendinginan gas yang terjadi berjuta-juta tahun. Dari proses pemanasan dan pendinginan itu, terbentuklah bumi yang padat dan bulat seperti saat ini.

Pada saat pertama kali bumi terbentuk, bumi tak seindah saat ini. Bumi ini layaknya padang pasir yang sangat luas, karena sedikit makhluk hidup yang dapat bertahan hidup akibat perubahan suhu yang sangat mencolok. Bumi hanya dihuni oleh hewan-hewan dan tumbuh-tumbuhan tingkat rendah, seperti ganggang, alga, amoeba, dan protozoa. Selanjutnya, muncul reptil raksasa (dinosaurus) dan hewan mamalia. Pada zaman kuarter, barulah muncul manusia raksasa yang disebut Giganthropus. Pada zaman kuarter (zaman keempat) pun masih terjadi ketidakstabilan jumlah es di bumi. Setelah beribu-ribu tahun terombang-ambing akibat mencair dan membekunya es yang tidak seimbang, akhirnya terbentuklah bumi yang padat beserta isinya seperti sekarang ini.

Selain hewan dan tumbuhan yang mengalami evolusi, manusia pun berevolusi. Sebagai buktinya, di Indonesia banyak terdapat fosil-fosil manusia purba beserta hasil-hasil kebudayaannya. Fosil-fosil tersebut sebagian besar ditemukan di daerah Jawa di tepi sungai-sungai besar. Hal ini dikarenakan tepi sungai merupakan daerah yang sangat subur dan dekat dengan sumber air, sehingga manusia purba dapat dengan mudah memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

Lingkungan di sekitar kita pun selalu mengalami perubahan. Setiap hari pasti ada perubahan yang terjadi, walaupun hasilnya tidak tampak secara signifikan. Perubahan yang terjadi meliputi seluruh aspek kemasyarakatan, mulai dari aspek alam, sosial, budaya, politik, hingga ekonomi. Perubahan yang terjadi di sekitar kita karena inovasi-inovasi manusia menciptakan teknologi untuk mempermudah hidupnya. Semakin maju peradaban manusia, semakin banyak perubahan yang terjadi pada lingkungan kita. Bahkan, hal-hal terkecil pun dapat berubah secara signifikan karena kepintaran umat manusia.

Sebelum kita melangkah lebih jauh mengenai konservasi alam, kita harus mengetahui terlebih dahulu apa itu lingkungan. Kata lingkungan memang sering kita dengar, namun tidak sedikit dari kita yang tidak dapat mendefinisikan secara pasti arti lingkungan.

Secara umum, lingkungan diartikan sebagai kombinasi antara kondisi fisik yang mencakup keadaan sumber daya alam, seperti tanah, air, energi surya, mineral, serta flora dan fauna yang tumbuh di atas tanah maupun di dalam lautan, dengan kelembagaan yang meliputi ciptaan manusia seperti keputusan bagaimana menggunakan lingkungan fisik tersebut. Lingkungan juga dapat diartikan segala sesuatu yang ada di sekitar manusia dan mempengaruhi perkembangan kehidupan manusia (Wikipedia.com). Ilmu yang mempelajari lingkungan disebut dengan ekologi dan merupakan cabang dari ilmu biologi.

Dari kata lingkungan, kita juga mengenal lingkungan hidup. Menurut UU No. 23 tahun 1997, lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. Tanpa lingkungan hidup, makhluk hidup tidak akan dapat bertahan hidup. Hal ini sesuai dengan fungsi lingkungan hidup, yaitu sebagai tempat hidup (habitat) makhluk hidup. Selain itu, lingkungan hidup juga berfungsi sebagai wahana berlangsungnya kehidupan dan tempat untuk mencari makanan.

Lingkungan hidup terbagi lagi menjadi tiga jenis, yaitu lingkungan alam, lingkungan sosial, dan lingkungan budaya. Lingkungan alam adalah kondisi lingkungan fisik dan abiotik di sekitar manusia, seperti tanah, air, udara, flora, dan fauna, serta segala kekayaan alam yang tersedia secara alami. Sedangkan lingkungan sosial adalah lingkungan dimana manusia berinteraksi, seperti norma, adat istiadat, dan yang lainnya. Terakhir, lingkungan budaya adalah lingkungan hasil ciptaan manusia yang bersifat abstrak dan nyata, seperti model pakaian, bahasa, dan lainnya.

Secara umum, lingkungan hidup tersusun atas komponen biotik dan abiotik. Komponen biotik adalah komponen lingkungan hidup yang berupa makhluk hidup, yaitu manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan. Komponen abiotik sebaliknya, terdiri atas benda-benda mati, seperti tanah, air, udara, suhu, dan cahaya matahari yang juga mendukung keberlangsungan hidup makhluk hidup. Kedua komponen tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh yang tidak dapat dipisahkan.

Keadaan lingkungan saat ini sungguh memprihatinkan. Pencemaran udara semakin meningkat karena banyaknya jumlah kendaraan bermotor dan aktivitas pabrik. Pencemaran air dan tanah juga meningkat, akibat jumlah sampah yang semakin tak terkendali. Di sisi lain, perilaku manusia yang serakah ikut memberi andil dalam kerusakan lingkungan ini.

Polusi atau pencemaran, terjadi karena masuknya bahan-bahan pencemar (polutan) yang dapat mengganggu keseimbangan lingkungan. Bahan-bahan pencemar tersebut pada umumnya merupakan efek samping dari aktivitas manusia dalam pembangunan. Berdasarkan jenisnya, pencemaran dapat dibagi menjadi empat, yaitu pencemaran udara, pencemaran tanah, pencemaran air, dan pencemaran suara. Pencemaran udara yang ditimbulkan oleh ulah manusia antara lain, disebabkan oleh asap sisa hasil pembakaran, khususnya bahan bakar fosil (minyak dan batu bara) yang ditimbulkan oleh kendaraan bermotor, mesin-mesin pabrik, dan mesin-mesin pesawat terbang atau roket. Pencemaran tanah disebabkan karena sampah plastik ataupun sampah anorganik lain yang tidak dapat diuraikan di dalam tanah, juga dapat disebabkan oleh penggunaan pupuk atau obat-obatan kimia yang digunakan secara berlebihan dalam pertanian. Sedangkan pencemaran air terjadi karena masuknya zat-zat polutan yang tidak dapat diuraikan dalam air, seperti deterjen, pestisida, minyak, dan berbagai bahan kimia lainnya, selain itu, tersumbatnya aliran sungai oleh tumpukan sampah juga dapat menimbulkan polusi atau pencemaran. Terakhir, pencemaran suara merupakan efek dari mesin-mesin kendaraan dan pabrik-pabrik. Jika dibiarkan terus menerus, bumi ini semakin tak layak huni, dan perlahan-lahan makhluk hidup akan mati.

Menanggapi keadaan ini, pemerintah bersama dengan lembaga terkait memutuskan untuk menggalakkan konservasi alam guna mencegah pencemaran yang semakin parah. Konservasi alam adalah pelestarian atau perlindungan terhadap alam. Konservasi berasal dari bahasa Inggris, conservation yang artinya pelestarian atau perlindungan. Tujuan diadakannya konservasi alam adalah untuk mencegah kepunahan flora dan fauna sehingga kelestarian alam pun terjaga.

Konservasi (sumber daya hayati) menurut peraturan perundang-undangan adalah pengelolaan sumber daya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya.

Konservasi alam perlu dilaksanakan secara kontinu, mengingat keadaan lingkungan saat ini semakin parah. Konservasi alam harus digalakkan agar lingkungan yang kita tempati bebas polusi. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah adalah dengan menetapkan kawasan-kawasan konservasi. Kawasan konservasi dapat berupa cagar alam, suaka margasatwa, dan taman nasional. Cagar alam dan suaka margasatwa merupakan Kawasan Suaka Alam (KSA), sedangkan taman nasional merupakan Kawasan Pelestarian Alam (KPA). Kawasan konservasi ini sangat membantu dalam proses pelestarian alam, karena melalui kawasan konservasi, keberadaan flora dan fauna dapat terjaga, sehingga keseimbangan lingkungan pun dapat tercapai.

Selain itu, pemerintah juga menetapkan undang-undang perlindungan satwa liar, yang bertujuan agar jumlah populasi mereka di alam bebas tetap terjaga. Penetapan satwa yang dilindungi ini didasarkan atas beberapa faktor, di antaranya proses reproduksi yang lambat, habitat asli yang terancam punah, serta keberadaan pemburu-pemburu liar yang membunuh satwa-satwa tersebut sehingga jumlahnya semakin menipis di alam. Salah satu contoh satwa langka di Indonesia adalah badak. Badak dimasukkan ke dalam satwa yang dilindungi karena proses reproduksinya yang lambat. Apabila badak terus diburu, sedangkan proses reproduksinya berjalan lambat, maka badak akan punah karena ketidakseimbangan antara badak yang lahir dengan yang mati. Selain itu, ada pula orang utan yang berhabitat di Sumatra dan Kalimantan. Orang utan dilindungi karena habitat aslinya yang terancam punah akibat penebangan liar, baik yang dilakukan masyarakat sekitar maupun oleh pengusaha-pengusaha kayu.

Organisasi pecinta lingkungan pun melakukan gerakan konservasi. Salah satunya adalah dengan melakukan gerakan penanaman seribu pohon dan penanaman mangrove di tepi pantai. Keduanya mempunyai tujuan yang sama, yaitu mencegah kerusakan alam. Gerakan penanaman seribu pohon dilakukan di lahan-lahan kosong yang tidak terpakai. Tujuannya adalah untuk mengembalikan kondisi tanah yang semula tandus menjadi subur kembali. Selain itu, hal ini juga akan berdampak semakin bersihnya udara sekitar, karena tumbuh-tumbuhan tersebut mengeluarkan oksigen, sehingga udara yang kita hirup semakin sehat. Sedangkan penanaman mangrove bertujuan untuk menahan abrasi pantai.

Tidak hanya pemerintah dan organisasi-organisasi pecinta lingkungan yang harus melakukan konservasi, kita pun sebagai warga masyarakat dituntut untuk melaksanakan konservasi alam di lingkungan sekitar. Tindakan yang dapat kita lakukan antara lain dengan menanam pohon di halaman rumah, melaksanakan gotong royong membersihkan lingkungan sekitar, memilah sampah dengan baik, serta melakukan gerakan 3 R (Reuse, Reduce, and Recycle). Jika semua pihak bekerja sama dengan baik, niscaya lingkungan yang kita tempati akan bersih, bebas dari polusi.

Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa lingkungan adalah kombinasi antara kondisi fisik yang mencakup keadaan sumber daya alam, seperti tanah, air, energi surya, mineral, serta flora dan fauna yang tumbuh di atas tanah maupun di dalam lautan, dengan kelembagaan yang meliputi ciptaan manusia seperti keputusan bagaimana menggunakan lingkungan fisik tersebut. Kemajuan peradaban manusia mengakibatkan perubahan kondisi lingkungan karena teknologi-teknologi yang diciptakan manusia untuk mempermudah hidupnya.

Selanjutnya, kita mengenal istilah lingkungan hidup. Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. Lingkungan hidup terbagi menjadi lingkungan alam, lingkungan sosial, dan lingkungan budaya. Lingkungan hidup tersusun atas komponen biotik dan abiotik, yang keduanya tidak bisa dipisahkan karena mempunyai hubungan yang sangat erat dalam menjaga kelangsungan kehidupan.

Akibat teknologi manusia, lingkungan hidup mengalami pencemaran lingkungan (polusi). Polusi terjadi karena masuknya bahan-bahan pencemar (polutan) yang dapat mengganggu keseimbangan lingkungan. Polutan itu merupakan hasil dari aktivitas manusia. Pencemaran lingkungan terbagi menjadi empat jenis, yaitu pencemaran udara, pencemaran air, pencemaran tanah, dan pencemaran suara.

Untuk mencegah kerusakan yang semakin parah akibat polusi, perlu diadakan konservasi alam. Konservasi alam adalah pelestarian atau perlindungan terhadap alam. Konservasi berasal dari bahasa Inggris, conservation yang artinya pelestarian atau perlindungan. Tujuan diadakannya konservasi alam adalah untuk mencegah kepunahan flora dan fauna sehingga kelestarian alam pun terjaga. Salah satu wujud konservasi alam adalah dengan menetapkan kawasan konservasi alam, yang terdiri dari cagar alam, suaka margasatwa, dan taman nasional. Selain itu, pemerintah juga mengeluarkan undang-undang perlindungan satwa liar agar jumlah populasi hewan-hewan tersebut tetap terjaga di alam bebas.

Organisasi pecinta lingkungan pun tidak tinggal diam. Mereka mengadakan gerakan penanaman seribu pohon di lahan tandus serta mengadakan penanaman mangrove di tepi pantai. Kesemuanya bertujuan untuk menjaga kelestarian alam. Selain pemerintah dan organisasi pecinta lingkungan, kita sebagai masyarakat juga harus berpartisipasi dalam konservasi alam. Tindakan yang dapat kita lakukan antara lain dengan menanam pohon di halaman rumah, melaksanakan gotong royong membersihkan lingkungan sekitar, memilah sampah dengan baik, serta melakukan gerakan 3 R (Reuse, Reduce, and Recycle). Diperlukan kerjasama yang baik agar tercipta lingkungan yang bersih, terbebas dari polusi.

Tulisan oleh: Muhammad Aditya Priyanto
Iustrasi gambar: https://www.dreamstime.com/stock-illustration-environmental-conservation-kids-recycling-symbol-image44609744