Dampak Aktivitas Ekowisata Mangrove di Kepulauan Karimun Jawa

/Dampak Aktivitas Ekowisata Mangrove di Kepulauan Karimun Jawa

Dampak Aktivitas Ekowisata Mangrove di Kepulauan Karimun Jawa

Hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di muara sungai, daerah pasang surut atau tepi laut. Tumbuhan mangrove bersifat unik karena merupakan gabungan dari ciri-ciri tumbuhan yang hidup di darat dan di laut. Umumnya tumbuhan mangrove memiliki sistem perakaran yang menonjol yang disebut akar napas (pneumatofor). Sistem perakaran ini merupakan suatu cara adaptasi terhadap keadaan tanah yang kurang oksigen atau anaerob. Mangrove merupakan karakteristik dari bentuk tanaman pantai dan estuari di tempat yang terlindung daerah tropis dan subtropis. Dengan demikian, mangrove merupakan ekosistem yang terdapat di antara daratan dan lautan yang membentuk suatu kondisi hutan ekstensif dan produktif. Hutan mangrove sendiri sering disebut dengan sebutan hutan bakau atau hutan payau.  Saat ini mangrove hanya ada di sekitar muara-muara sungai dengan ketebalan 10-100 meter, didominasi oleh genus Avicennia, Rhizophora, dan Sonneratia. Masing-masing dari genus tersebut memiliki manfaatnya masing-masing. Misal pada genus Avicennia memiliki kemampuan dalam mengakumulasi (menyerap dan menyimpan dalam organ akar, batang, dan daun) logam berat pencemar, sehingga keberadaan mangrove dapat berperan untuk menyaring dan mereduksi tingkat pencemaran di perairan laut, dan manfaat ekonomis seperti hasil kayu, serta bermanfaat sebagai pelindung bagi lingkungan ekosistem daratan dan lautan. Akhir-akhir ini keberadaan ekosistem mangrove mengalami penurunan kualitas secara drastis. Kerusakan hutan mangrove yang terjadi diakibatkan oleh dua faktor yaitu aktivitas manusia dan faktor alami. Kerusakan hutan mangrove yang diakibatkan oleh aktivitas manusia seperti misalnya perambahan hutan mangrove secara besar-besaran untuk pembuatan kayu bakar, arang dan bahan bangunan, serta penguasaan lahan oleh masyarakat, pembukaan lahan untuk pertambakan ikan dan garam, pemukiman penduduk pesisir pantai, pertambangan, dan lain sebagainya.

Beberapa kawasan konservasi mangrove di Indonesia banyak dijadikan sebagai kawasan wisata, atau biasa yang disebut ekowisata. Ekowisata sendiri merupakan suatu bentuk wisata yang bertanggung jawab terhadap kelestarian area yang masih alami (natural area), yang dapat member manfaat secara ekonomi dan mempertahankan keutuhan budaya bagi masyarakat setempat. Sehingga, ekowisata menjadi salah satu gerakan konservasi yang banyak dilakukan oleh penduduk dunia. Definisi ekowisata yang pertama dikenalkan oleh organisasi The Ecotourism Society, yaitu suatu bentuk perjalanan wisata ke area alami yang dilakukan dengan tujuan mengkonservasi lingkungan dan melestarikan kehidupan dan kesejahteraan penduduk setempat. Semula ekowisata dilakukan oleh pecinta alam yang menginginkan di daerah tujuan wisata tetap utuh dan lestari. Namun seiring berkembangnya waktu, ekowisata pun banyak digemari oleh wisatawan.

Pada bulan Agustus 2017 kemarin, saya berkesempatan mengunjungi Kepulauan Karimun Jawa yang memiliki potensi dalam pariwisata karena didukung juga dengan adanya Taman Nasional dengan letak yang cukup strategis. Keanekaragaman hayati di Kepulauan Karimun Jawa cukup tinggi terutama di lingkungan ekosistem tertentu seperti mangrove, lamun, dan terumbu karang. Kepulauan Karimun Jawa pun dinobatkan sebagai salah satu kawasan ekowisata yang cukup besar di Indonesia. Dampak ekowisata di Karimun Jawa pun sangat dirasakan oleh masyarakat. Pendapatan masyarakat mengalami peningkatan dengan adanya kegiatan ekowisata. Mereka banyak yang menyewakan jasa wisata untuk melengkapi kebutuhan wisatawan seperti homestay, sewa alat snorkeling, jasa transportasi, dan lain sebagainya. Setelah adanya kegiatan ekowisata, dengan banyaknya jumlah wisatawan yang datang ke Karimun Jawa, banyak penduduk sekitar yang menambah perkejaannya. Yang awalnya hanya nelayan, maka bertambah pekerjaan sebagai pemandu wisata atau tour guide. Peluang masyarakat di Karimun Jawa untuk bekerja sangatlah besar dan masyarakat sekitar pun dapat memanfaatkan kondisi tersebut. Kesejahteraan masyarakat pun meningkat dengan adanya kegiatan ekowisata.

Kegiatan ekowisata yang dilakukan di Kepulauan Karimun Jawa salah satunya adalah tracking mangrove. Hutan mangrove di Karimun Jawa memiliki luas 10,5 kilometer persegi dan masuk ke dalam kawasan Taman Nasional Karimun Jawa. Karena termasuk kawasan taman nasional dan kawasan konservasi, mangrove di Karimun Jawa tetap terjaga dengan baik. Tracking mangrove tersebut didesain sedemikian rupa dengan dibuat semacam jalur tracking yang terbuat dari jembatan kayu dan disusun secara rapi dan sangat kuat untuk dilalui pengunjung yang masuk ke kawasan tersebut. Jalur tracking yang menjulur jauh mengelilingi hutan mangrove sangat terlihat indah sekali. Di tengah-tengah hutan, didirikan sebuah menara yang tinggi untuk dapat digunakan melihat keindahan alam di Karimun Jawa. Kegiatan ekowisata di kawasan hutan mangrove sendiri memiliki dampak positif antara lain, kawasan konservasi hutan mangrove ini sering dijadikan lokasi untuk pembelajaran teknik dan cara penanaman mangrove bagi pelajar atau mahasiswa yang datang untuk mempelajari budidaya mangrove, jumlah mangrove mengalami peningkatan dan perkembangan yang membaik karena banyak pihak yang justru mengadakan kegiatan penanaman mangrove di kawasan tersebut, serta pendapatan ekonomi dari wisatawan yang berkunjung pun cukup tinggi. Selain dampak positif, terdapat juga dampak negatif yang dirasakan yaitu banyak sampah yang dibuang sembarangan oleh wisatawan yang berkunjung. Padahal pihak pengelola sudah memberikan tempat-tempat sampah yang cukup banyak di kawasan tersebut. Hal ini sangat amat disayangkan.

Agar mangrove yang ada di kawasan tersebut bisa dipertahankan, maka pihak pengelola perlu menyiapkan penjagaan dan melakukan pengontrolan pada titik-titik mangrove. Selain itu, kegiatan penanaman mangrove sebaiknya lebih sering dilaksanakan secara bersama-sama sehingga masyarakat akan lebih merasakan bahwa kepedulian terhadap kelestarian ekosistem sangat penting. Selain hal-hal tersebut, perlu dibuat suatu peringatan dalam bentuk poster atau himbauan agar tidak membuang sampah sembarangan di area sekitar mangrove. Dan ketika wisatawan berkunjung, mereka akan sadar untuk tidak melakukan hal tersebut. Karena kesadaran dari dalam diri sendiri lah yang dapat menggebrak suatu perubahan yang baik.

Tulisan Oleh: Andri Rusmana

Ilustrasi Gambar: vecteezy

By | 2018-04-01T08:50:07+00:00 April 1st, 2018|Categories: esai, konservasi|Comments Off on Dampak Aktivitas Ekowisata Mangrove di Kepulauan Karimun Jawa
%d bloggers like this: